Menjadi seorang pendidik adalah sesuatu yang membanggakan bagi saya, agar terciptanya peserta didik yang tidak lupa akan perkembangan zaman, disitulah seorang pendidik bertanggung jawab melaksanakan tugasnya. Mengayomi dan mengarahkan peserta didik kepada arah yang lebih maju lagi dibanding dengan pengalaman saya sebelumnya, setidaknya ada satu materi yang akan mengubah dunia dalam jangka panjang, ini memang harapan, jika harapan ini tidak hanya sekedar omong kosong maka akan terjadi sesuatu yang fenomenal.
Saya belum bisa memberikan contoh bagaimana caranya atau dari pengalaman yang saya alami sendiri mengenai bagaimana seorang pendidik yang berprestasi memberikan contoh yang baik. Akan tetapi disini saya akan berusaha untuk menjadikan tauladan bagi murid-muridnya suatu saat.
Menjadi seorang guru besar pastinya membutuhkan proses yang panjang, tidak secepat yang dibayangkan, tidak sesingkat yang dipikirkan. Guru besar adalah seorang manusia yang bisa dijadikan contoh untuk membangkitkan jiwa manusia lain yang sedang berkembang untuk lebih berprestasi dalam budi pekerti yang luhur dan potensial akademik yang semakin berkembang. Dalam perjalanan kehidupannya, seorang guru besar terus menyalurkan karya-karya dari ilmu pengetahuan yang dipelajarinya hingga memunculkan teori baru yang dapat dimanfaatkan dilingkukan akademis maupun masyarakat pada umumnya. Dengan adanya Guru Besar ini diharapkan setiap dari peserta didik terus meneruskan kiprahnya dibidang akademik, seperti menerbitkan artikel, karangan bebas, jurnal, penelitian, membuat satu karangan buku dan masih banyak lagi, dengan bimbingan dari guru besar tersebut yang keilmuannya lebih tinggi disbanding peserta didik.
Menurut pandangan saya menjadi seorang Guru Besar itu harus mau berproses, menjalani tingkatan demi tingkatan dengan sabar tanpa rasa ke egoisan yang di unggulkan. Menjadi Guru Besar bukanlah gelar atau pangkat yang harus disombongkan, akan tetapi tujuannya adalah mengembangkan keilmuan yang ada di alam semesta ini untuk terus menggali sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah didapat sebelumnya, supaya generasi manusia yang akan datang lebih mengerti bagaimana alam sekitar bisa menjadi kehidupan yang dapat dirasakan kehidupannya dan tahu bagaimana tujuan mengapa manusia itu sendiri hidup. Seorang Guru Besar selain memiliki keilmuan yang tinggi dia juga mesti memiliki moral budi pekerti yang luhur, karena perangai yang baik akan membawakan ilmu yang dia peroleh menjadi bermanfaat, dengan kata lain ilmunya digunakan pada jalan yang benar, jalan yang lurus, perilaku yang dapat menjerumuskan manusia kedalam perbuatan positif. Mayarakat umumnya memandang Guru Besar sebagai orang yang cerdas, mulia derajatnya, kharismatik, perkataannya dapat dipertanggungjawabkan.
Perjuangan untuk menjadi Guru Besar dibutuhkan keuletan dalam disiplin ilmu, kesabaran meneliti suatu peristiwa atau fenomena yang ada, kerajinan mengumpulkan berkas-berkas yang memenuhi syarat untuk menjadi Guru Besar, bertahap dari tingkatan awal hingga menjadi Guru Besar, dan itu semua dilalui melalui proses yang melelahkan, namun karena gigihnya, semangatnya menjadikan seorang pendidik tersebut amat berharga dimata orang-orang yang berilmu tinggi karena prestasinya itu membuahkan penghargaan, penghormatan, penganugerahan sebagai Guru Besar yang derajatnya lebih tinggi disbanding dengan para pendidik lainnya. Karena semuanya tidak ada yang instan di dunia ini, semuanya melalui proses panjang, proses keberhasilan, proses yang menuntun keinginannya untuk menjadi seperti apa yang diinginkannya. Menjadi guru besar adalah cita-cita mulia, siapa lagi yang akan mendidik bangsa ini menjadi cerdas kaya akan moral jika tidak ada seseorang yang memiliki keilmuan tinggi, pola piker yang lebih terbuka, wawasan yang lebih dalam lagi jika bukan seorang Guru Besar.
Inspirator memukau harapan bangsa, motivator para intelektual muda dalam berkiprah di dunia akademika, menciptakan kesejahteraan bangsa demi terwujudnya kecerdasan bangsa melalui dedikasi tinggi yang diberikan Guru Besar. Guru Besar bukanlah tolak ukur untuk memajukan negeri ini, tapi bagaimana generasi setelahnya maju karena bimbingan edukasi yang diberikannya dan pergerakan generasi muda yang terus menginginkan negeri yang sejahtera.
Komentar
Tak mungkin tanpa melalui tahapan
Dia diliputi sandung dan pendakian
Tak jarang berbagai pengorbanan
Sesekali kau kan terhiasi peluh
Atau liku-liku yang membuatmu jatuh
Namun, percayalah pada tekad dan juang
Karena ia akan menghapus lelah yang meluruh
Jangan pernah berhenti untuk mempunyai keinginan tinggi. Jika engkau memang mempunyai keinginan dan dirasa itu ada manfaatnya, kata Allah dan Rosul-Nya “Ikhrish ‘ala maa yanfa’uk. Wasta’in billaah wa laa ta’jaz” (Berjuanglah! Jika itu memang bermanfaat. Mintalah tolong kepada Allah, dan jangan lemah!). Jangan berhenti bermimpi, tinggikan mimpimu dan libatkan Allah dalam menggapainya. Jangan takut untuk hasil yang mengecewakan, karena Allah mengatakan “Ikhrish” (berjuang) bukan hasil. Jangan lupa untuk “wasta’in billaah” (minta tolong kepada Allah), bermunajat di sepertiga malam. Ketika engkau sudah istiqomah dan minta tolong kepada Allah, namun hasilnya belum sesuai dengan yang engkau inginkan, “wa laa ta’jaz” (dan jangan lemah). Itu belum selesai, cerita belum selesai. Sabar dan jemput skenario Allah selanjutnya, barangkali ini hanya ujian untuk skenario yang lebih indah lagi.
Ganbatte Kudasai Azhar-kun......